Selasa, 19 Mei 2020

Gerakan Sosial dan Perubahan Sosial



Gerakan sosial adalah suatu bentuk aksi bersama yang bertujuan untuk melakukan reorganisasi sosial, baik yang diogranisir rapi maupun secara cair dan informal (kamus sosiologi,2020), menurut saya gerakan sosial adalah gerakan yang dilakukan bersama untuk mencapai suatu tujuan yang sama sebagai cita-citanya dilakukan secara kolektif. Banyak pakar yang menyimak peran khas gerakan sosial ini. Mereka melihat gerakan sosial sebagai salah satu cara utama untuk menata ulang masyarakat modern (Blumer, 1951: 154); sebagai pencipta perubahan sosial (Killian,1964; 426); sebagai aktor historis (Touraine 1977; 298); sebagai agen perubahan kehidupan politik atau pembawa proyek historis (Eyerman & Jamison, 1991; 26).

Ada pula yang menyatakan: ”gerakan massa dan konflik yang ditimbulkannya adalah agen utama perubahan sosial ” (Adamson & Borgos, 1984; 12). Cara gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan lainya adalah Kriteria pertama, perubahan berasal ”dari bawah”, melalui aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat biasa dengan derajat ”kebersamaan” yang berbeda-beda. Perubahan lain mungkin berasal ”dari atas”, melalui aktifitas elite yang berkuasa (penguasa, pemerintah, manajer, administrator, dll) mampu memaksakan kehendaknya kepada anggota masyarakat yang lain. Kriteria kedua, perubahan mungkin diinginkan, diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang mereka rencanakan sebelumnya; perubahan lain mungkin muncul sebagai efek samping tak diharapkan, efek samping dari tindakan yang tujuannya sama sekali berlainan.

   Defenisi gerakan sosial

  • *   Kolektivkasi yang bertindak bersama.
  • *  Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.
  • *   Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya dari organisasi formal.
  • *  Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional. Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan Perubahan dalam masyarakat mereka

 Penekanan serupa juga ditemukan oleh definisi beberapa ahli, diantaranya adalah :

  • .       Upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru (Blumer, 1951; 199)
  • .    Upaya kolektif untuk mengubah tatanan norma dan nilai (Smelser, 1962; 3) Pakar kontempoter mengemukakan ciri gerakan sosial adalah Tindakan kolektif yang kurang lebih terorganisir, bertujuan perubahan sosial atau lebih tepatnya kelompok individu yang secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif di depan umum dan mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan itu. (Eyerman & Jamison, 1991; 43-44) .

Adapun hubungan keeratan antara gerakan sosial dengan perubahan sosial adalah ”Perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial (Wood & Jackson 1982: 6). Perubahan sosial selaku tujuan gerakan sosial berarti dua hal yang berbeda. Tujuannya dapat menjadi posistif dan negatif. Dapat menjadi positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada. Negatif, menghentikan, mencegah atau membalikkan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan gerakan sosial (misalnya kemerosotan lingkungan alam, kenaikan angka fertilitas), Gerakan sosial mempunyai berbagai status penyebab berkenaan dengan perubahan. Disatu fihak, gerakan ini dianggap sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Dilain fihak, gerakan sosial hanya dapat dilihat sebagai dampak, gejala yang menyertai proses untuk dikembangkan oleh daya dorongnya sendiri (misalnya menyertai kemajuan modernisasi, urbanisasi, dll)

Berkaitan dengan bidang tempat terjadinya perubahan sosial yang disebabkan oleh gerakan sosial. Biasanya dilakukan oleh masyarakat yang lebih luas yang berada di luar gerakan itu sendiri. Kelihatannya gerakan sosial itui sendiri seakan-akan adalah tindakan terhadap masayarakat dari luarnya, tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan segmen anggotanya dan merembesi bidang fungsi tertentu.

2.      Gerakan sosial dan modernitas 

Gerakan sosial besar-lah yang menyumbang terhadap kelahiran modernitas di saat revolusi borjuis besar di Inggris, Perancis, dan AS. Strategi dan taktik gerakan disemua zaman itu telah berkembang, namun kebanyakan pengamat sependapat bahwa hanya dalam masyarakat modern-lah ”era gerakan sosial benar-benar dimulai”. Gerakan sosial adalah bagian sentral modernitas. Gerakan sosial menentukan ciri-ciri politik modern dan masyarakat modern (Eyerman & Jamison, 1991: 53). Alasan yang menyebabkan gerakan sosial dizaman modern teori menonjol, diantaranya, Teori Durkheim. Kecenderugan kepadatan penduduk dikawasan sempit terjadi bersamaan dengan urbanisasi dan industrialisasi dan menghasilkan kepadatan moral penduduk yang besar. Gambaran modenitas lain adalah disebut ”Tema Tonnies”, yakni atomisasi dan isolasi individu dalam Gesellschaft yang bersifat impersonal. Tema Marxian. Peningkatan ketimpangan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan perbedaan kekuasaan, dan prestise yang sangat tajam ini menimbulkan pengalaman dan kesan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan perampasan hak yang menimbulkan permusuhan dan konflik kelompok.
 

3.      Tipe gerakan sosial

Sebagai salah satu gejala sosial yang kerapkali muncul ditengah masyarakat dengan tujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan dilakukan oleh sekelompok orang secara terorganisir maka apabila dilihat dari perspektif sosiologi tentu gerakan sosial ini dapat dibagi kedalam beberapa macam. Contohnya menurut Cohen (1983) yang membagi jenis gerakan sosial tersebut kedalam beberapa tipe yaitu: Pertama, gerakan ekspresif. Dalam masyarakat yang sudah maju dan modern individu acapkali ingin mengungkapkan (mengekspresikan) berbagai keinginannya untuk mendapat perhatian dan simpati publik. Misalnya saja, gerakan yang dilakukan dikalangan kaum remaja dan pemuda dalam bentuk menciptakan model/gaya baru baik itu berupa cara berpakaian maupun penampilan yang dianggap unik orang lain. Bahkan dalam kategori gerakan ini dapat pula dimasukkan aliran musik misalnya “Break Dance” dikalangan kaum remaja di Amerika awal tahun 1980 an yang mana aliran musik seperti ini sengaja diekspresikan dikalangan penciptanya sebagai bentuk ungkapan perasaan mereka. Kedua, gerakan regresif. Adapun tipe gerakan sosial ini sengaja dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk mengembalikan apa yang ada sekarang ini ke keadaan sebelumnya. Dengan kata lain mereka yang melakukan gerakan sosial regresif merasa kecewa serta frustasi melihat keadaan sosial sekarang ini.Contohnya gerakan yang dilakukan dikalangan kelompok Ku Klux Klan yang menginginkan agar supaya hak sipil dan kebebasan kaum orang kulit hitam (Black American) ditempatkan pada status sosial yang lebih rendah. Ketiga gerakan progresif. Bagi mereka yang terlibat dalam gerakan ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan kelompok tertentu dalam masyarakat misalnya saja gerakan sosial yang dilakukan dikalangan serikat pekerja dalam bentuk unjuk rasa dan protes menuntut kenaikan upah baik kaum buruh serta pekerja lainnya. Keempat gerakan reformis. Sedangkan tipe gerakan sosial ini lebih diorientasikan pada terciptanya perubahan dan pembaruan aspek tertentu dalam masyarakat. Contoh di Bulan Mei 1998 para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia melakukan gerakan sosial dan menuntut diadakannya pembaharuan dan perubahan khususnya yang terkait dengan praktek kolusi, korupsi dan nepotisme. Begitu juga halnya yang terjadi di Uni Soviet di tahun 1980 an yang waktu itu masyarakat menuntut dilakukannya pembaharuan dan perubahan yang dampaknya berakibat runtuhnya Uni Soviet dan kemudian terpecah kedalam beberapa Negara merdeka, otonom dan berdaulat.

Kelima gerakan revolusioner. Tidak seperti halnya gerakan reformasi, yang hanya menuntut dilakukannya perubahan terhadap aspek tertentu dalam masyarakat maka dalam gerakan sosial yang sifatnya revolusioner ini justru menuntut lebih jauh hingga dilakukan perubahan bersifat total dan radikal terhadap seluruh aspek kehidupan manusia dan tatanan sosial yang ada. Menurut Sztompka (2004) menjelaskan bahwa revolusi berbeda dengan bentuk perubahan sosial lainnya yakni (a) menimbulkan perubahan dalam cakupan terluas yang menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat: ekonomi, politik, kultur, organisasi sosial, kehidupan sehari-hari dan kepribadian manusia. (b) Dalam bidang tersebut, perubahannya radikal, fundamental, menyentuh inti bangunan dan fungsi sosial. (c) perubahan yang terjadi sangat cepat, tiba-tiba, seperti ledakan dinamit ditengah aliran lambat proses historis. (d) dengan semua alasan itu, revolusi adalah pertunjukan perubahan paling menonjol, waktunya luar biasa cepat dan karena itu sangat mudah diingat. Keenam gerakan utopian. Dalam konteks gerakan sosial ini yang mana dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk membentuk suatu lingkungan yang dianggap ideal dan baik bagi mereka. Salah satu contoh termasuk dalam gerakan sosial bersifat utopian yaitu gerakan yang dilakukan dikalangan kaum separatis yang ingin membentuk suatu Negara baru dengan cara memisahkan diri dari suatu Negara.

Dalam banyak kasus, gerakan kelompok separatis dapat ditemui disejumlah Negara diseluruh dunia.Meskipun begitu, harus dipahami kalau gerakan sosial seperti ini muncul sebagai manisfestasi dari perasaan kecewa, frustasi serta ketidakpuasaan sekelompok orang terhadap kaum penguasa yang dinilainya berlaku tidak adil, diskriminasi, eksploitasif dan tidak transparan sehingga dianggap bersikap otoriter pada kelompok tertentu dalam masyarakat. Dengan kata lain, apa yang dilakukan dikalangan kaum separatis tak lain mereka berjuang keras untuk mendirikan suatu Negara baru yang dianggapnya ideal dan mampu menciptakan kedamaian serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam realitasnya, ternyata terdapat beberapa Negara baru yang dibentuk sebagai dampak yang ditimbulkan dari tipe gerakan separatis yang masih dalam proses perjuangan separatis yang masih dalam rentan waktu yang terbilang lama. Dan ketujuh, gerakan migrasi. Pada dasarnya mereka yang terlibat dalam gerakan ini merasa tidak begitu puas dengan kondisi kehidupan sosial ekonomi mereka sekarang sehingga mereka memutuskan untuk berpindah kesuatu wilayah yang lain dengan harapan dapat memperoleh kehidupan sosial ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Disamping itu, sudah barang tentu ada faktor pendorong yang menyebabkan mereka meninggalkan daerah asalnya misalnya : sempitnya lapangan kerja, rendahnya gaji mereka terima, kurangnya fasilitas pendidikan dan kesehatan, minimnya sarana hiburan serta sejumlah faktor lainnya yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kampung halamannya. Lalu, disisi lain ada faktor penarik yang dapat membangkitkan keinginan, minat serta harapan seseorang yang berasal dari daerah tujuan umpamanya tersedianya lapangan kerja dengan upah yang relatif tinggi, terdapatnya sarana pendidikan, kesehatan dan hiburan yang cukup, serta aneka bentuk faktor penarik lainnya yang mana semua ini memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menarik seseorang meninggalkan tempat tinggal sebelumnya.

Dengan pemaparan yang telah dijelaskan tentang gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan, terlebih pada awal-awal pembahasan yang menjabarkan tentang definisi-definisi baik dari para pakar sosiologi ataupun kesimpulan dari buku dapatlah dikatakan bahwa singkatnya gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu gerakan yang dilakukan masyarakat yang sifatnya kelompok/kolektif sesuai dengan kesepakatan. Begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi khususnya yang terkait pada gerakan sosial yang menjadi bahasan pada lembaran essey ini. Gerakan sosial lebih melihat kejadian atau sesuatu hal dari dampak yang ditimbulkan. Pada dasarnya yang dilihat tentang terjadinya gerakan sosial adalah dampak yang ditimbulkan dari gerakan tersebut. Seperti contoh kasus tentang pergerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non Goverment Organization (NGO) atau organisasi non-kepemerintahan yang memperjuangakan hak hak rakyat yang belum didapati. LSM itu sendiri merupakan kelompok primer, yaitu mereka yang bekerja sama karena mempunyai kesamaan aspirasi dan kegiatan bersama, dimana hubungan keduanya akrab dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat lapisan bawah. LSM itu sendiri di bantu tenaga sukarela, yang biasanya disebut dengan relawan atau istilah-istilah yang telah disepakati oleh keputusan bersama dalam LSM itu sendiri. LSM bergerak dibidang dimana pemerintah tidak dapat menjangkau permasalahan ataupun suatu hal yang tidak dapat di atasi oleh pemerintah dalam hal ini tentunya kebijakan pemerintah. Pekerjaan mereka berdasarkan atas pangilan kebutuhan masyarakat atau kamanusiaan karena berasal, berakar, dan tumbuh dari dan oleh masyarakat. Misi utama LSM adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya, dengan harapan setelah program atau kegiatan berakhir masyarakat kelompok sasarannya dapat menjadi mandiridan swadaya. Untuk mencapai tujuan berasama, mereka bekerja berdasarkan prinsip saling membantu berdasarkan kepentingan bersama yang biasanya adalah mengatasi persoalan kebutuhan dasar. Cara LSM menjadi fasilitator adalah dengan membantu rakyat menorganisasi diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal, dan memobilisasi sumber daya yang ada pada mereka. Selain itu, LSM juga membantu mendapatkan sumber daya dari luar sebagai tambahan sumber daya lokal jika yang tersedia tidak memadai guna memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Dari hal tersebut, telah jelas bahwa gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM untuk masyarakat atau rakyat sangatlah konkrit. Karena langsung terasa pada aspek-aspek kehidupan masyarakat. Pergerakan dari LSM itu sendiri bersifat kooperatif terhadap pemerintah, bukan berarti kaki tangan dari pemerintah melainkan kepanjangan tangan dari pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Akan tetapi, LSM terkadang tidak sejalan dengan pemerintah dan tidak bersifat anarkis. Hal tersebut dikarenakan untuk merangsang gerakan pemerintah agar cepat tanggap dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Kesimpulan Dari pemaparan dari awal pembahasan, komentar tentang gerakan sosial kemudian di lanjutkan dengan contoh kasus tentang gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dapatlah disimpulkan bahwa kasus tentang pergerakan LSM adalah termasuk ke dalam tipe gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan. Saran Munculnya LSM sebagai agen perubahan sangat erat hubungannya dengan perubahan sosial. Gerakan sosial yang dalam fokus kajian merupakan contoh kasus nyata yang dihadapi dalam keseharian pemerintah Indonesia. Hal yang harus dilakukan yang paling mendasar oleh Pemerintah dalam hal ini seharusnya menjadikan cepat tanggap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ataupu kejadian-kejadian yang sedang berkembang serta peka terhadap apa yang terjadi pada rakyatnya.

 

Andi Haris, Asyraf Bin Hj. AB Rahman , Wan Ibrahim Wan Ahmad. “Mengenal Gerakan Sosial dalam Perspektif Ilmu Sosial” HASANUDDIN JOURNAL OF SOCIOLOGY (hjs) Volume 1, Issue 1, 2019, Available online at journal.unhas.ac.id/index.php/HJS

Kamus Sosiologi, https://dosensosiologi.com/kamus-istilah-sosiologi-besera-artinya-a-z-lengkap/

Dimpos Manalu, “Gerakan Sosial dan perubahan kebijakan publik”, populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853-0262. Jurnal. UGM. ac. Id

Joni Rusmanto, “Gerakan Sosial, Sejarah Perkembagan Teori antara Kekuatan dan Kelemahannya”, diterbitkan Jl. Taman Pondok Jati J 3, Taman Sidoarjo. hlm : 4, https://www.researchgate.net/publication/323238283_GERAKAN_SOSIAL_Sejarah_Perkembangan_Teori_antara_Kekuatan_dan_Kelemahan

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perubahan Sosial Ekonomi dan Globalisasi Menurut Pemikiran Jean Baudrillard

Baudrillard lahir di Reims, perancis pada tanggal 27 Juli 1929. Jean Baudrillard adalah seorang ahli sosiologi, Filsuf, ahli teori budaya,...