Ada pula yang menyatakan: ”gerakan massa dan konflik yang ditimbulkannya adalah agen utama perubahan sosial ” (Adamson & Borgos, 1984; 12). Cara gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan lainya adalah Kriteria pertama, perubahan berasal ”dari bawah”, melalui aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat biasa dengan derajat ”kebersamaan” yang berbeda-beda. Perubahan lain mungkin berasal ”dari atas”, melalui aktifitas elite yang berkuasa (penguasa, pemerintah, manajer, administrator, dll) mampu memaksakan kehendaknya kepada anggota masyarakat yang lain. Kriteria kedua, perubahan mungkin diinginkan, diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang mereka rencanakan sebelumnya; perubahan lain mungkin muncul sebagai efek samping tak diharapkan, efek samping dari tindakan yang tujuannya sama sekali berlainan.
Defenisi gerakan sosial
Kolektivkasi yang bertindak bersama.
Tujuan bersama tindakannya
adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan
partisipan menurut cara yang sama.
Kolektivitasnya relatif
tersebar namun lebih rendah derajatnya dari organisasi formal.
Tindakannya mempunyai
derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak
konvensional. Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir
secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan Perubahan dalam masyarakat mereka
Penekanan serupa juga
ditemukan oleh definisi beberapa ahli, diantaranya adalah :
- .
Upaya kolektif untuk membangun tatanan
kehidupan yang baru (Blumer, 1951; 199)
- . Upaya kolektif untuk
mengubah tatanan norma dan nilai (Smelser, 1962; 3) Pakar kontempoter
mengemukakan ciri gerakan sosial adalah Tindakan kolektif yang kurang lebih
terorganisir, bertujuan perubahan sosial atau lebih tepatnya kelompok individu
yang secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif
di depan umum dan mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak
memuaskan itu. (Eyerman & Jamison, 1991; 43-44) .
Adapun hubungan keeratan antara gerakan sosial dengan
perubahan sosial adalah ”Perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri
gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial (Wood &
Jackson 1982: 6). Perubahan sosial selaku tujuan gerakan sosial berarti dua hal
yang berbeda. Tujuannya dapat menjadi posistif dan negatif. Dapat menjadi
positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada. Negatif, menghentikan, mencegah
atau membalikkan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan
gerakan sosial (misalnya kemerosotan lingkungan alam, kenaikan angka
fertilitas), Gerakan
sosial mempunyai berbagai status penyebab berkenaan dengan perubahan. Disatu
fihak, gerakan ini dianggap sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai
kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Dilain fihak,
gerakan sosial hanya dapat dilihat sebagai dampak, gejala yang menyertai proses
untuk dikembangkan oleh daya dorongnya sendiri (misalnya menyertai kemajuan
modernisasi, urbanisasi, dll)
Berkaitan dengan bidang tempat terjadinya perubahan sosial
yang disebabkan oleh gerakan sosial. Biasanya dilakukan oleh masyarakat yang
lebih luas yang berada di luar gerakan itu sendiri. Kelihatannya gerakan sosial
itui sendiri seakan-akan adalah tindakan terhadap masayarakat dari luarnya,
tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan segmen anggotanya dan
merembesi bidang fungsi tertentu.
2. Gerakan
sosial dan modernitas
Gerakan sosial besar-lah yang menyumbang terhadap kelahiran
modernitas di saat revolusi borjuis besar di Inggris, Perancis, dan AS.
Strategi dan taktik gerakan disemua zaman itu telah berkembang, namun
kebanyakan pengamat sependapat bahwa hanya dalam masyarakat modern-lah ”era
gerakan sosial benar-benar dimulai”. Gerakan sosial adalah bagian sentral
modernitas. Gerakan sosial menentukan ciri-ciri politik modern dan masyarakat
modern (Eyerman & Jamison, 1991: 53). Alasan yang
menyebabkan gerakan sosial dizaman modern teori menonjol, diantaranya, Teori
Durkheim. Kecenderugan kepadatan penduduk dikawasan sempit terjadi bersamaan
dengan urbanisasi dan industrialisasi dan menghasilkan kepadatan moral penduduk
yang besar. Gambaran modenitas lain adalah disebut ”Tema Tonnies”, yakni
atomisasi dan isolasi individu dalam Gesellschaft yang bersifat impersonal.
Tema Marxian. Peningkatan ketimpangan sosial
yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan perbedaan kekuasaan, dan prestise
yang sangat tajam ini menimbulkan pengalaman dan kesan eksploitasi, penindasan,
ketidakadilan, dan perampasan hak yang menimbulkan permusuhan dan konflik kelompok.
3.
Tipe gerakan sosial
Sebagai salah satu gejala sosial
yang kerapkali muncul ditengah masyarakat dengan tujuan untuk mencapai suatu
tujuan tertentu dan dilakukan oleh sekelompok orang secara terorganisir maka
apabila dilihat dari perspektif sosiologi tentu gerakan sosial ini dapat dibagi
kedalam beberapa macam. Contohnya menurut Cohen (1983) yang membagi jenis
gerakan sosial tersebut kedalam beberapa tipe yaitu: Pertama, gerakan ekspresif. Dalam masyarakat yang sudah maju dan
modern individu acapkali ingin mengungkapkan (mengekspresikan) berbagai
keinginannya untuk mendapat perhatian dan simpati publik. Misalnya saja,
gerakan yang dilakukan dikalangan kaum remaja dan pemuda dalam bentuk
menciptakan model/gaya baru baik itu berupa cara berpakaian maupun penampilan
yang dianggap unik orang lain. Bahkan dalam kategori gerakan ini dapat pula
dimasukkan aliran musik misalnya “Break Dance” dikalangan kaum remaja di
Amerika awal tahun 1980 an yang mana aliran musik seperti ini sengaja
diekspresikan dikalangan penciptanya sebagai bentuk ungkapan perasaan mereka. Kedua, gerakan regresif. Adapun tipe
gerakan sosial ini sengaja dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan untuk
mengembalikan apa yang ada sekarang ini ke keadaan sebelumnya. Dengan kata lain
mereka yang melakukan gerakan sosial regresif merasa kecewa serta frustasi
melihat keadaan sosial sekarang ini.Contohnya gerakan yang dilakukan dikalangan
kelompok Ku Klux Klan yang menginginkan agar supaya hak sipil dan kebebasan
kaum orang kulit hitam (Black American) ditempatkan pada status sosial yang
lebih rendah. Ketiga gerakan
progresif. Bagi mereka yang terlibat dalam gerakan ini pada dasarnya bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan kelompok tertentu dalam
masyarakat misalnya saja gerakan sosial yang dilakukan dikalangan serikat
pekerja dalam bentuk unjuk rasa dan protes menuntut kenaikan upah baik kaum
buruh serta pekerja lainnya. Keempat
gerakan reformis. Sedangkan tipe gerakan sosial ini lebih diorientasikan pada
terciptanya perubahan dan pembaruan aspek tertentu dalam masyarakat. Contoh di
Bulan Mei 1998 para mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia melakukan
gerakan sosial dan menuntut diadakannya pembaharuan dan perubahan khususnya
yang terkait dengan praktek kolusi, korupsi dan nepotisme. Begitu juga halnya
yang terjadi di Uni Soviet di tahun 1980 an yang waktu itu masyarakat menuntut
dilakukannya pembaharuan dan perubahan yang dampaknya berakibat runtuhnya Uni
Soviet dan kemudian terpecah kedalam beberapa Negara merdeka, otonom dan
berdaulat.
Kelima gerakan revolusioner. Tidak
seperti halnya gerakan reformasi, yang hanya menuntut dilakukannya perubahan
terhadap aspek tertentu dalam masyarakat maka dalam gerakan sosial yang
sifatnya revolusioner ini justru menuntut lebih jauh hingga dilakukan perubahan
bersifat total dan radikal terhadap seluruh aspek kehidupan manusia dan tatanan
sosial yang ada. Menurut Sztompka (2004) menjelaskan bahwa revolusi berbeda
dengan bentuk perubahan sosial lainnya yakni (a) menimbulkan perubahan dalam
cakupan terluas yang menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat: ekonomi,
politik, kultur, organisasi sosial, kehidupan sehari-hari dan kepribadian
manusia. (b) Dalam bidang tersebut, perubahannya radikal, fundamental,
menyentuh inti bangunan dan fungsi sosial. (c) perubahan yang terjadi sangat
cepat, tiba-tiba, seperti ledakan dinamit ditengah aliran lambat proses
historis. (d) dengan semua alasan itu, revolusi adalah pertunjukan perubahan
paling menonjol, waktunya luar biasa cepat dan karena itu sangat mudah diingat.
Keenam gerakan utopian. Dalam konteks
gerakan sosial ini yang mana dilakukan oleh sekelompok orang dengan tujuan
untuk membentuk suatu lingkungan yang dianggap ideal dan baik bagi mereka.
Salah satu contoh termasuk dalam gerakan sosial bersifat utopian yaitu gerakan
yang dilakukan dikalangan kaum separatis yang ingin membentuk suatu Negara baru
dengan cara memisahkan diri dari suatu Negara.
Dalam banyak kasus, gerakan
kelompok separatis dapat ditemui disejumlah Negara diseluruh dunia.Meskipun
begitu, harus dipahami kalau gerakan sosial seperti ini muncul sebagai
manisfestasi dari perasaan kecewa, frustasi serta ketidakpuasaan sekelompok orang
terhadap kaum penguasa yang dinilainya berlaku tidak adil, diskriminasi,
eksploitasif dan tidak transparan sehingga dianggap bersikap otoriter pada
kelompok tertentu dalam masyarakat. Dengan kata lain, apa yang dilakukan
dikalangan kaum separatis tak lain mereka berjuang keras untuk mendirikan suatu
Negara baru yang dianggapnya ideal dan mampu menciptakan kedamaian serta
meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Dalam realitasnya, ternyata
terdapat beberapa Negara baru yang dibentuk sebagai dampak yang ditimbulkan
dari tipe gerakan separatis yang masih dalam proses perjuangan separatis yang
masih dalam rentan waktu yang terbilang lama. Dan ketujuh, gerakan migrasi. Pada dasarnya mereka yang terlibat dalam
gerakan ini merasa tidak begitu puas dengan kondisi kehidupan sosial ekonomi
mereka sekarang sehingga mereka memutuskan untuk berpindah kesuatu wilayah yang
lain dengan harapan dapat memperoleh kehidupan sosial ekonomi yang jauh lebih
baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Disamping itu, sudah barang tentu
ada faktor pendorong yang menyebabkan mereka meninggalkan daerah asalnya
misalnya : sempitnya lapangan kerja, rendahnya gaji mereka terima, kurangnya
fasilitas pendidikan dan kesehatan, minimnya sarana hiburan serta sejumlah
faktor lainnya yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kampung halamannya.
Lalu, disisi lain ada faktor penarik yang dapat membangkitkan keinginan, minat
serta harapan seseorang yang berasal dari daerah tujuan umpamanya tersedianya
lapangan kerja dengan upah yang relatif tinggi, terdapatnya sarana pendidikan,
kesehatan dan hiburan yang cukup, serta aneka bentuk faktor penarik lainnya
yang mana semua ini memiliki pengaruh yang sangat besar untuk menarik seseorang
meninggalkan tempat tinggal sebelumnya.
Dengan pemaparan yang telah dijelaskan tentang gerakan sosial
sebagai kekuatan perubahan, terlebih pada awal-awal pembahasan yang menjabarkan
tentang definisi-definisi baik dari para pakar sosiologi ataupun kesimpulan
dari buku dapatlah dikatakan bahwa singkatnya gerakan sosial adalah tindakan
kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk
menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka, atau juga dapat dikatakan
sebagai suatu gerakan yang dilakukan masyarakat yang sifatnya kelompok/kolektif
sesuai dengan kesepakatan. Begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi
khususnya yang terkait pada gerakan sosial yang menjadi bahasan pada lembaran
essey ini. Gerakan sosial lebih melihat kejadian atau sesuatu hal dari dampak
yang ditimbulkan. Pada dasarnya yang dilihat tentang terjadinya gerakan sosial
adalah dampak yang ditimbulkan dari gerakan tersebut. Seperti contoh kasus
tentang pergerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non Goverment
Organization (NGO) atau organisasi non-kepemerintahan yang memperjuangakan hak
hak rakyat yang belum didapati. LSM itu sendiri merupakan kelompok primer,
yaitu mereka yang bekerja sama karena mempunyai kesamaan aspirasi dan kegiatan
bersama, dimana hubungan keduanya akrab dan mampu berkomunikasi dengan
masyarakat lapisan bawah. LSM itu sendiri di bantu tenaga sukarela, yang
biasanya disebut dengan relawan atau istilah-istilah yang telah disepakati oleh
keputusan bersama dalam LSM itu sendiri. LSM bergerak dibidang dimana
pemerintah tidak dapat menjangkau permasalahan ataupun suatu hal yang tidak
dapat di atasi oleh pemerintah dalam hal ini tentunya kebijakan pemerintah.
Pekerjaan mereka berdasarkan atas pangilan kebutuhan masyarakat atau
kamanusiaan karena berasal, berakar, dan tumbuh dari dan oleh masyarakat. Misi
utama LSM adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraannya, dengan harapan setelah program atau kegiatan
berakhir masyarakat kelompok sasarannya dapat menjadi mandiridan swadaya. Untuk
mencapai tujuan berasama, mereka bekerja berdasarkan prinsip saling membantu
berdasarkan kepentingan bersama yang biasanya adalah mengatasi persoalan
kebutuhan dasar. Cara LSM menjadi fasilitator adalah dengan membantu rakyat
menorganisasi diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal, dan memobilisasi sumber
daya yang ada pada mereka. Selain itu, LSM juga membantu mendapatkan sumber
daya dari luar sebagai tambahan sumber daya lokal jika yang tersedia tidak
memadai guna memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Dari hal tersebut, telah jelas
bahwa gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM untuk masyarakat atau rakyat
sangatlah konkrit. Karena langsung terasa pada aspek-aspek kehidupan
masyarakat. Pergerakan dari LSM itu sendiri bersifat kooperatif terhadap
pemerintah, bukan berarti kaki tangan dari pemerintah melainkan kepanjangan
tangan dari pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Akan
tetapi, LSM terkadang tidak sejalan dengan pemerintah dan tidak bersifat
anarkis. Hal tersebut dikarenakan untuk merangsang gerakan pemerintah agar
cepat tanggap dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Kesimpulan Dari pemaparan
dari awal pembahasan, komentar tentang gerakan sosial kemudian di lanjutkan
dengan contoh kasus tentang gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat) dapatlah disimpulkan bahwa kasus tentang pergerakan LSM
adalah termasuk ke dalam tipe gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang
diinginkan. Saran Munculnya LSM sebagai agen perubahan sangat erat hubungannya
dengan perubahan sosial. Gerakan sosial yang dalam fokus kajian merupakan
contoh kasus nyata yang dihadapi dalam keseharian pemerintah Indonesia. Hal
yang harus dilakukan yang paling mendasar oleh Pemerintah dalam hal ini
seharusnya menjadikan cepat tanggap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ataupu
kejadian-kejadian yang sedang berkembang serta peka terhadap apa yang terjadi
pada rakyatnya.
Andi Haris, Asyraf Bin Hj. AB
Rahman , Wan Ibrahim Wan Ahmad. “Mengenal
Gerakan Sosial dalam Perspektif Ilmu Sosial” HASANUDDIN JOURNAL OF
SOCIOLOGY (hjs) Volume 1, Issue 1, 2019, Available online at journal.unhas.ac.id/index.php/HJS
Kamus Sosiologi, https://dosensosiologi.com/kamus-istilah-sosiologi-besera-artinya-a-z-lengkap/
Dimpos Manalu, “Gerakan Sosial dan perubahan kebijakan publik”,
populasi, 18(1), 2007, ISSN: 0853-0262. Jurnal. UGM. ac. Id
Joni Rusmanto, “Gerakan Sosial, Sejarah Perkembagan Teori
antara Kekuatan dan Kelemahannya”, diterbitkan Jl. Taman Pondok Jati J
3, Taman Sidoarjo.
hlm : 4, https://www.researchgate.net/publication/323238283_GERAKAN_SOSIAL_Sejarah_Perkembangan_Teori_antara_Kekuatan_dan_Kelemahan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar