Selasa, 19 Mei 2020

Perubahan Sosial Ekonomi dan Globalisasi Menurut Pemikiran Jean Baudrillard

Baudrillard lahir di Reims, perancis pada tanggal 27 Juli 1929. Jean Baudrillard adalah seorang ahli sosiologi, Filsuf, ahli teori budaya,komentator politik, dan fotografer berkebangsaan perancis yang merupakan salah satu pelopor teori postmodern yang sangat berpengaruh. Baudrillard juga sering di kaitkan dengan post-structuralisme. Ia jugan di kenal sebagai analisis media, analisis budaya kontemporer, dan analisis teknologi komunikasi. Baudrillard adalah seorang teroris, provokator, filsuf, sekaligus nabi postmodernitas. Tulisan-tulisannya memiliki gaya yang khas dan orisinal deklaratif, hiperbolik, aforistik, skeptis, fatalis, nihilis, namun tajam dan cerdas. Tulisan-tulisan Baudrillard seperti bom yang meledakkan suasana, dan menyajikan cara pandang baru terhadap realitas sosial postmodern. Sebagai seorang sosiolog, Baudrillard menawarkan banyak gagasan dan wawasan yang inspiratif. Pemikirannya menjadi penting karena ia mengembangkan teori yang berusaha memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa. Ia mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru di mana bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberikan jalan bagi semesta komunikasi yang baru. Sebagai pemikir aliran postmodern yang perhatian utamanya adalah hakikat dan pengaruh komunikasi dalam masyarakat pascamodern, Baudrillard sering mengeluarkan ide-ide cukup kontroversial dan melawan kemapanan pemikiran yang ada selama ini. Misalnya dalam wacana mengenai kreativitas dalam budaya media massa atau budaya cyber ia menganggapnya sebagai sesuatu yang absurd dan contradictio in terminis. Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole. Ia menyebutnya Simulacra, di mana realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hyper-reality). Begitulah Baudrillard memandang hakikat komunikasi massa.

Pokok-pokok pikiran Baudrillard

Baudrillard mengembangkan teori yang berusaha memahami sifat dan pengaruh komunikasi massa. Ia mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru, bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberikan jalan bagi semesta komunikasi yang baru, dunia yang dikonstruksi dari model atau simulacra. Sejak jaman Renaissance hingga kini telah terjadi tiga kali revolusi simulacra, yaitu counterfeit, production dan simulation, yang merupakan nama yang berbeda untuk arti yang sama yaitu, imitasi atau reproduksi dari image atau obyek. Pertama, image merupakan representasi dari realitas. Kedua, image menutupi realitas. Ketiga, image menggantikan realitas yang telah sirna, menjadi simulacrum murni. Pada sign as sign, simbolika muncul dalam bentuk irruption. Baudrillard kemudian menambahkan tahapan keempat yang disebut fractal atau viral. Kini kita pada tahapan fractal, suatu tahapan transeverything yang mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap dunia.

Pokok masalah pemikiran Baudrillard ini dipengaruhi sejarah perkembangan industri sejak zaman Renaissance hingga sekarang adalah sejarah simulacra, yaitu sejarah imitasi, atau reproduksi sehingga menimbulkan persoalan makna, orisinalitas dan identitas manusia. Kedua, Masyarakat konsumen adalah masyarakat dalam pertanyaan. Ketiga, Sirnanya realitas “Not into nothingness, but into the more real than real (the triumph of simulacra)? Keempat, perkembangan yang pesat dari teknologi diakhir abad 20 dan awal millennium ketiga ini telah melampaui batasbatasnya dan menjalar keseluruh sendi-sendi kehidupan manusia dan mengubah secara radikal cara pandang manusia terhadap dunia.



Dilihat dari pemikiran Baudrillard  dan situasi pada yang terjadi pada saat ini adalah Perubahan sosial ekonomi dan globalisasi telah berdampak pada pola budaya konsumsi dan Perubahan sosial ekonomi dan globalisasi telah berdampak pada pola budaya konsumsi. Melalui perubahan pemaknaan sesuatu yang dikonsumsi sebagai objek menjadi suatu “tanda” dari identitas dan status sosial, masyarakat mengubah orientasi konsumsinya dari memenuhi kebutuhan biologis menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan sosiologis. Aktivitas konsumsi bertransformasi menjadi konsumerisme, bahkan ajaran agama sekalipun melalui ideologi konsumerisme tidak luput menjadi instrumen permainan tanda status sosial. Melalui proses komodifikasi, momen hari raya yang merupakan bagian ritual agama itu sendiri dipaksa seolah menjadi landasan tatanan budaya konsumsi. 

Hal ini sejatinya terjadi melalui mekanisme permainan komoditas sebagai tanda dimana menurut Baudrillard tidak lain adalah bentuk penindasan secara halus bahkan lebih berbahaya daripada penindasan kelas yang selama ini menjadi kekhawatiran Marx. Akibatnya, konsumen tenggelam dalam ranah . Yang di mana  Sebelum Baudrillard, John K. Galbraith telah lebih dahulu mempengaruhi dunia pemikiran sosial dengan idenya bahwa manusia adalah homo psycho-economicus. Ekonom tersebut menyatakan konsumsi ditentukan oleh faktor kebutuhan atau hasrat memperoleh kenikmatan. Baudrillard merespon dan melakukan revisi atas pernyataan Galbraith tersebut. Walaupun tidak menafikan pentingnya faktor kebutuhan dan keinginan, Baudrillard lebih jauh menilai bahwa konsumsi juga ditentukan oleh seperangkat hasrat untuk memperoleh penghormatan, status, prestise, dan konstruksi identitas melalui suatu “mekanisme penandaan”. Jadi, menurut Baudrillard (1998[1970]: 76-77), sistem nilai-tanda dan nilai-simbol merupakan dasar dari mekanisme sistem konsumsi. Pada intinya konsumsi telah menjadi kegiatan dan identitas masyarakat postmodern. Individu memaknai semakin pentingnya aktivitas konsumsi baik dalam pengalaman personal maupun pergaulan sosial. Konsumerisme telah merasuki arena kehidupan keseharian masyarakat, terutama sekali di wilayah perkotaan. Menjadi semakin jelas bahwa yang lebih ditekankan dalam budaya konsumen adalah nilai simbolik dari komoditas. Kelas sosial dan kelompok sosial menjadi tidak relevan dalam dunia simulasi dimana citra visual dianggap lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Baudrillard melihat logika nilai-tanda sebagai kemenangan besar kapitalisme dalam upayanya untuk memaksakan tatanan budaya yang sesuai dengan tuntutan produksi komoditas skala besar (Miles, 2006: 46).

Melalui perubahan pemaknaan sesuatu yang dikonsumsi sebagai objek menjadi suatu “tanda” dari identitas dan status sosial, masyarakat mengubah orientasi konsumsinya dari memenuhi kebutuhan biologis menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan sosiologis. Aktivitas konsumsi bertransformasi menjadi konsumerisme, bahkan ajaran agama sekalipun melalui ideologi. konsumerisme tidak luput menjadi instrumen permainan tanda status sosial. Melalui proses komodifikasi, momen hari raya yang merupakan bagian ritual agama itu sendiri dipaksa seolah menjadi landasan tatanan budaya konsumsi. Hal ini sejatinya terjadi melalui mekanisme permainan komoditas sebagai tanda dimana menurut Baudrillard tidak lain adalah bentuk penindasan secara halus bahkan lebih berbahaya daripada penindasan kelas yang selama ini menjadi kekhawatiran Marx. Akibatnya, konsumen tenggelam dalam ranah tanda-tanda yang tergabung dalam komoditas yang sepenuhnya tidak berhubungan dengan kebutuhan aktual. Apa yang dinilai penting pada akhirnya adalah nilai simbolik dari komoditas, dimana kombinasi pencitraan lebih utama daripada kenyataan itu sendiri. Perayaan menjadi lebih penting daripada kebutuhan, sehingga logika manusia sebagai homo economicus perlu dipertanyakan ulang. Mempelajari teori Baudrillard dapat memberikan manfaat, yaitu mengetahui dan memahami inti beberapa teori penting yang merupakan buah pemikirannya yang dituangkan dalam beberapa judul. Selain itu, kita juga dapat mengetahui berbagai kritik yang di samapaikan oleh para ahli terhadap buah pemikiran Jean Baudrillard.  Menjadi semakin jelas bahwa yang lebih ditekankan dalam budaya konsumen adalah nilai simbolik dari komoditas. Kelas sosial dan kelompok sosial menjadi tidak relevan dalam dunia simulasi dimana citra visual dianggap lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Baudrillard melihat logika nilai-tanda sebagai kemenangan besar kapitalisme dalam upayanya untuk memaksakan tatanan budaya yang sesuai dengan tuntutan produksi komoditas skala besar (Miles, 2006: 46).

 

Sumber :

Indra Setia Bakti, Nirzalin, Alwi. ” Konsumerisme dalam perspektif Jean Baudrillard” , Jurnal Sosiologi USK Volume 13, Nomor 2, Desember 2019. www. jurnal. unsyiah. ac.id

Adya Arsita. “ Simulasi Baudrillard dalam Muldimensi Posmodernisme : Kajian Fotografi Makanan dalam Media Sosial Instagram”, Jurnal Rekam, Vol. 13 No. 2 - Oktober 2017. http://journal.isi.ac.id/index.php/rekam/article/viewFile/1932/627

                     

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perubahan Sosial Ekonomi dan Globalisasi Menurut Pemikiran Jean Baudrillard

Baudrillard lahir di Reims, perancis pada tanggal 27 Juli 1929. Jean Baudrillard adalah seorang ahli sosiologi, Filsuf, ahli teori budaya,...